


|
Kemilau Budaya TANAH GAYO
|
|
|
BLANGKEJEREN - 5005 Penari saman telah
berlangsung di Lapangan Stadion Seribu Bukit, Senin, (24/11). Stadion
padat, terlihat tumpah ruah menjadi lautan manusia di moment yang
bersejarah bagi Gayo Lues itu.
Hari ini, setidaknya dapat dijadikan
sebagai hari bersejarah, setelah di nobatkannya Tari Saman sebagai
warisan dunia tak benda pada 24 November 2011 oleh UNESCO di Bali.
Hentakan para penari yang begitu menyatu
dan kompak terlihat indah dari atas tribun stadion. Ribuan, penonton
yang memadati Stadion hanyut dengan syair-syair saman pada pertunjukkan
itu.
Pertunjukkan massal itu digelar,
berdurasi lebih kurang 30 menit, dengan kostum yang rapi dengan ukiran
khas Gayo Lues, penampilan para penari saman terarah dengan baik, mulai
dari gerakan berdiri, selanjutnya duduk, hingga memasuki syair-syair
Gayo yang indah, mengandung makna penghormatan, filosofi kehidupan serta
nasehat Agama.
Kekompakan penari terlihat sangat akrab, dengan
ayunan kepala kanan-kiri, atas bawah, hingga bersilang, menandakan
adanya suatu filosofi kebersaman di masyarakat Gayo Lues, yang
tergambarkan melalui seni Tari Saman.
Barisan penari terlihat rapat berjejer
memanjang stadion arah barat - timur, sedangkan arah selatan ada ratusan
lapis dipadati penari, mereka antusias memainkan peran tanpa mengenal
teriknya matahari di tengah rumput hijau lapangan bola kaki, kebanggaan
masyarakat Gayo Lues itu.
Penari terdiri dari masyarakat yang
sebelumnya telah direkrut masing-masing dari setiap Kampung se Gayo
Lues, ditambah dengan perekrutan seluruh instansi, Badan, Dinas, Kantor,
TNI, Polri. Dan, seluruh siswa SMP, SMA Gayo Lues. Sebelum
pembelajaran, para penari telah melakukan latihan terlebih dahulu.
Tari Saman Gayo Lues, dilakonkan oleh
kaum laki-laki dengan jumlah bilangan ganjil, telah tertanam makna
filosofi kehidupan yang kuat di Tarian Saman, di dalam bahasa Gayo
disebutkan. "Kunul Sara Duk Ratip Sara Anguk, " yang artinya lebih
kurang, berat sama-sama di pikul ringan sama-sama di jinjing".
Turut hadir, menyaksikan tari saman,
Wagub Aceh, Muzakir Manaf, bersama rombongan sejumlah SKPA. Dan sejumlah
Bupati, Bener Meriah. ,Aceh Tengah, Abdya, Aceh Tenggara, Kabupaten
Karo.
Wakil Bupati Gayo Lues, Adam, selaku
ketua Panitia pada acara tersebut, melaporkan, tari saman sebanyak 5005
orang, telah memecahkan rekor muri seluruh dunia. Laporan selanjutnya,
di ungkapkan Bupati Gayo Lues, setelah Tari Saman dilaksanakan, akan
digelar Seminar Asal Usul Budaya Gayo, yang hadir dari beberapa pakar
budayawan, dari luar daerah, antara lain keturunan Sibayak Lingga .
Awan Rahargo, Deputi Manager Museum
Rekor Indonesia (MURI), yang turut menyaksikan, mengaku, jati diri
bangsa telah terukir dari penampilan Tari Saman di Negeri Seribu Bukit. “
ini adalah sejarah baru, kami kukuhkan sebagai rekor dunia, “ jelas
Rahargo. Seraya menyerahkan Piagam pemecah Rekor Muri kepada Bupati Gayo
Lues.
|
| Last Updated ( Sunday, 08 February 2015 17:08 )
|
Sumber :
Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Provinsi Aceh (DISBUDPAR)
Gambar untuk pariwisata aceh
Cut Nyak Din
http://id.wikipedia.org/wiki/Cut_Nyak_Dhien

Cut Nyak Dhien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di
Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun
1848. Ayahnya bernama
Teuku Nanta Seutia, seorang
uleebalang VI
Mukim, yang juga merupakan keturunan
Datuk Makhudum Sati,
perantau dari Minangkabau. Datuk Makhudum Sati mungkin datang ke
Aceh pada abad ke 18 ketika
kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir. Oleh sebab itu, Ayah dari Cut Nyak Dhien merupakan keturunan Minangkabau
[2][4]. Ibu Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang Lampagar.
Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dhien adalah anak yang cantik.
[2] Ia memperoleh pendidikan pada bidang agama (yang dididik oleh orang tua ataupun guru
agama)
dan rumah tangga (memasak, melayani suami, dan yang menyangkut
kehidupan sehari-hari yang dididik baik oleh orang tuanya). Banyak
laki-laki yang suka pada Cut Nyak Dhien dan berusaha melamarnya. Pada
usia 12 tahun, ia sudah dinikahkan oleh orangtuanya pada tahun
1862 dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga
[2][4], putra dari uleebalang Lamnga XIII.
Cut Nyak Dhien (ejaan lama:
Tjoet Nja' Dhien,
Lampadang,
Kerajaan Aceh,
1848 adalah seorang
Pahlawan Nasional Indonesia dari
Aceh
yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Setelah wilayah VI
Mukim diserang, ia mengungsi, sementara suaminya Ibrahim Lamnga
bertempur melawan
Belanda. Ibrahim Lamnga tewas di Gle Tarum pada tanggal
29 Juni 1878 yang menyebabkan Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah untuk menghancurkan Belanda.
bahasa Gambar buat sang pahlawan
Teuku Umar,
salah satu tokoh yang melawan Belanda, melamar Cut Nyak Dhien. Pada
awalnya Cut Nyak Dhien menolak, tetapi karena Teuku Umar
memperbolehkannya ikut serta dalam medan perang, Cut Nyak Dhien setuju
untuk menikah dengannya pada tahun
1880. Mereka dikaruniai anak yang diberi nama
Cut Gambang.
[1] Setelah pernikahannya dengan
Teuku Umar, ia bersama
Teuku Umar bertempur bersama melawan Belanda. Namun, Teuku Umar gugur saat menyerang
Meulaboh pada tanggal
11 Februari 1899,
sehingga ia berjuang sendirian di pedalaman Meulaboh bersama pasukan
kecilnya. Cut Nyak Dien saat itu sudah tua dan memiliki penyakit
encok dan
rabun, sehingga satu pasukannya yang bernama Pang Laot melaporkan keberadaannya karena iba.
[2][3]
Ia akhirnya ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Di sana ia dirawat dan
penyakitnya mulai sembuh. Namun, keberadaannya menambah semangat
perlawanan rakyat Aceh. Ia juga masih berhubungan dengan pejuang Aceh
yang belum tertangkap. Akibatnya, Dhien dibuang ke Sumedang. Tjoet Nyak
Dhien meninggal pada tanggal
6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.

http://jabarprov.go.id/