Minggu, 22 Februari 2015

'fantastic' Indonesia.


Hasil gambar untuk pariwisata aceh

 


Hasil gambar untuk pariwisata aceh
Hasil gambar untuk pariwisata aceh


TARI SAMAN,


PDF Print E-mail
Kemilau Budaya TANAH GAYO  

BLANGKEJEREN - 5005 Penari saman telah berlangsung di Lapangan Stadion Seribu Bukit, Senin, (24/11). Stadion padat, terlihat tumpah ruah menjadi lautan manusia di  moment yang bersejarah bagi Gayo Lues itu.
Hari ini,  setidaknya dapat dijadikan sebagai hari bersejarah, setelah di nobatkannya Tari Saman sebagai warisan dunia tak benda pada 24 November 2011 oleh UNESCO di Bali.
Hentakan para penari yang begitu menyatu dan kompak terlihat indah dari atas tribun stadion. Ribuan, penonton yang memadati Stadion hanyut dengan syair-syair saman pada pertunjukkan itu.

Pertunjukkan massal itu digelar, berdurasi lebih kurang 30 menit, dengan kostum yang rapi dengan ukiran khas Gayo Lues, penampilan para penari saman terarah dengan baik, mulai dari gerakan berdiri, selanjutnya duduk, hingga memasuki syair-syair Gayo yang indah, mengandung makna penghormatan, filosofi kehidupan serta nasehat Agama.

Kekompakan penari terlihat sangat akrab, dengan ayunan kepala kanan-kiri, atas bawah, hingga bersilang, menandakan adanya suatu filosofi kebersaman di masyarakat Gayo Lues, yang tergambarkan melalui seni Tari Saman.
Barisan penari terlihat rapat berjejer memanjang stadion arah barat - timur, sedangkan arah selatan ada ratusan lapis dipadati penari, mereka antusias memainkan peran  tanpa mengenal teriknya matahari di tengah rumput hijau lapangan bola kaki, kebanggaan masyarakat Gayo Lues itu.
Penari terdiri dari masyarakat yang sebelumnya telah direkrut masing-masing dari setiap Kampung se Gayo Lues, ditambah dengan perekrutan seluruh instansi, Badan, Dinas, Kantor, TNI, Polri. Dan, seluruh siswa SMP, SMA Gayo Lues. Sebelum pembelajaran, para penari telah melakukan latihan  terlebih dahulu.
Tari Saman Gayo Lues, dilakonkan oleh kaum laki-laki dengan jumlah bilangan ganjil, telah tertanam makna filosofi kehidupan yang kuat di Tarian Saman, di dalam bahasa Gayo disebutkan. "Kunul Sara Duk Ratip Sara Anguk, " yang artinya lebih kurang, berat sama-sama di pikul ringan sama-sama di jinjing".
Turut hadir, menyaksikan tari saman, Wagub Aceh, Muzakir Manaf, bersama rombongan sejumlah SKPA. Dan sejumlah Bupati, Bener Meriah. ,Aceh Tengah, Abdya, Aceh Tenggara, Kabupaten Karo.
Wakil Bupati Gayo Lues, Adam, selaku ketua Panitia pada acara tersebut, melaporkan, tari saman sebanyak 5005 orang, telah memecahkan rekor muri seluruh dunia. Laporan selanjutnya, di ungkapkan Bupati Gayo Lues, setelah Tari Saman dilaksanakan, akan digelar Seminar Asal Usul Budaya Gayo, yang hadir dari beberapa pakar budayawan, dari luar daerah, antara lain keturunan Sibayak  Lingga.
Awan Rahargo, Deputi Manager Museum Rekor Indonesia (MURI), yang turut menyaksikan, mengaku, jati diri bangsa telah terukir dari penampilan Tari Saman di Negeri Seribu Bukit. “ ini adalah sejarah baru, kami kukuhkan sebagai rekor dunia, “ jelas Rahargo. Seraya menyerahkan Piagam pemecah Rekor Muri kepada Bupati Gayo Lues.
Addthis
Last Updated ( Sunday, 08 February 2015 17:08 )
 Sumber :
 Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Provinsi Aceh (DISBUDPAR)
 Gambar untuk pariwisata aceh

Cut Nyak Din
 http://id.wikipedia.org/wiki/Cut_Nyak_Dhien

 
Cut Nyak Dhien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang VI Mukim, yang juga merupakan keturunan Datuk Makhudum Sati, perantau dari Minangkabau. Datuk Makhudum Sati mungkin datang ke Aceh pada abad ke 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir. Oleh sebab itu, Ayah dari Cut Nyak Dhien merupakan keturunan Minangkabau[2][4]. Ibu Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang Lampagar.
Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dhien adalah anak yang cantik.[2] Ia memperoleh pendidikan pada bidang agama (yang dididik oleh orang tua ataupun guru agama) dan rumah tangga (memasak, melayani suami, dan yang menyangkut kehidupan sehari-hari yang dididik baik oleh orang tuanya). Banyak laki-laki yang suka pada Cut Nyak Dhien dan berusaha melamarnya. Pada usia 12 tahun, ia sudah dinikahkan oleh orangtuanya pada tahun 1862 dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga[2][4], putra dari uleebalang Lamnga XIII.

Hasil gambar untuk cut nyak dienCut Nyak Dhien (ejaan lama: Tjoet Nja' Dhien, Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848 adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Setelah wilayah VI Mukim diserang, ia mengungsi, sementara suaminya Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda. Ibrahim Lamnga tewas di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878 yang menyebabkan Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah untuk menghancurkan Belanda.
 
bahasa Gambar buat sang pahlawan
 

Hasil gambar untuk cut nyak dienTeuku Umar, salah satu tokoh yang melawan Belanda, melamar Cut Nyak Dhien. Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak, tetapi karena Teuku Umar memperbolehkannya ikut serta dalam medan perang, Cut Nyak Dhien setuju untuk menikah dengannya pada tahun 1880. Mereka dikaruniai anak yang diberi nama Cut Gambang.[1] Setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, ia bersama Teuku Umar bertempur bersama melawan Belanda. Namun, Teuku Umar gugur saat menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, sehingga ia berjuang sendirian di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Cut Nyak Dien saat itu sudah tua dan memiliki penyakit encok dan rabun, sehingga satu pasukannya yang bernama Pang Laot melaporkan keberadaannya karena iba.[2][3] Ia akhirnya ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Di sana ia dirawat dan penyakitnya mulai sembuh. Namun, keberadaannya menambah semangat perlawanan rakyat Aceh. Ia juga masih berhubungan dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap. Akibatnya, Dhien dibuang ke Sumedang. Tjoet Nyak Dhien meninggal pada tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.

 
http://jabarprov.go.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar